Madani International Film Festival 2026 sebagai perayaan sinema dan kebudayaan berakar pada masyarakat muslim dunia mengusung tema Rimpang (Rhizome).
Tema ini merujuk pada karakter perkembangan ruang perkotaan, sebagaimana Jakarta, yang membangun ruang dan relasi kehidupannya secara menjalar, bercabang, dan saling silang. Rimpang merepresentasikan modalitas kebudayaan dan keilmuan alternatif yang non-linear dan non-hierarkis di tengah lanskap dunia multipolar yang tak lagi bertumpu pada sentrisme tunggal.
Dalam khazanah bahasa Arab, kata rimpang diserap ke dalam terminologi botani modern sebagai الجِذْمُور (Al-Jidhmur) atau ساق أرضية (Saq Ardiyyah, batang bawah tanah). Pada ragam sastra klasik, terdapat dua metafora berakar makna serupa: أصل (Ashl, asal mula atau akar asli) dan عرق (‘Irq, urat dan jalinan akar penopang kehidupan).
Dalam kitab suci Al-Qur'an, salah satu tanaman rimpang utama diabadikan pada Surah Al-Insan ayat 17, yaitu jahe atau زنجبيل (Zanjabil), sebagai sari minuman mulia di surga. Jahe, kunyit, dan aneka rimpang nusantara sejak berabad silam dikenal sebagai penawar luka dan saripati pemulihan tubuh.
Inilah intisari terdalam dari tema Rimpang: tumbuhan yang menjalar dan menyembuhkan. Melalui layar sinema festival, kita diajak menghubungkan kembali nalar, rasa, dan keberanian untuk merawat kemanusiaan bersama.
Hikmat Darmawan
Dewan Pengarah Festival / Festival Board