Logo
EN

Catatan Kuratorial - Focus Country: Sahel

Film-film dari Sahel menuturkan kisah rakyat yang melawan ketidakadilan dan menumbuhkan harapan bagi Selatan Global
focus country sahel

Catatan Kuratorial - Focus Country: Sahel

Esok, Matahari Akan Bersinar Terang
Bunga Siagian & Yuki Aditya

Tujuh puluh tahun setelah Konferensi Asia-Afrika (1955) yang melahirkan proyek Dunia Ketiga--- upaya membentuk dunia baru di dalam semangat solidaritas anti-kolonial dan anti-imperialis lintas benua, sungguh aneh bahwa ingatan dan pengetahuan kita mengenai Afrika sangat terbatas.

Apa yang lebih kita kenal adalah penggambaran Afrika yang kita dapat dari media Barat melalui pembajakan terhadap istilah Dunia Ketiga itu sendiri. Afrika digambarkan sebagai negara-negara miskin dan yang masih dalam tahap berkembang. Pengertian yang sama sekali berbeda dengan apa yang divisikan oleh negara-negara baru merdeka di Asia dan Afrika beberapa dekade lalu, ketika mereka memiliki determinasi kuat untuk menentukan jalan politik, ekonomi, dan budaya yang terbebas dari struktur kolonial. Atau apa yang kita kenal sebagai dekolonisasi.

Memilih wilayah Sahel di Afrika sebagai focus country berarti menyadari perlunya sebuah artikulasi lain untuk berbagi pengetahuan mengenai Afrika secara umum, dan Sahel secara khusus.

Langkah pertama adalah membongkar tatapan terhadap Afrika dengan mengubah cara pandang kita terhadap istilah dunia ketiga, dengan menunjukkan bahwa kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di sana bukanlah sebagai sesuatu yang alamiah. Melainkan, hasil eksploitasi panjang kolonialisme, neo-kolonialisme, dan imperialisme, hingga hari ini di tanah Sahel. Untuk itu, upaya-upaya untuk melawan, mengembangkan dan mengartikulasikan pengetahuan kritis, mengorganisir gerakan, adalah bagian dari sejarah panjang masyarakat Afrika di dalam menghadapi penindasan tersebut. Semangat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu manifestasinya yang hari ini mengambil perhatian bersama, tentu saja, terbentuknya Aliansi Negara-Negara Sahel atau AES. Sebuah aliansi yang terbentuk pada 2023, terdiri dari Niger, Burkina Faso, dan Mali, bekerja sama untuk mengambil beberapa langkah konkret bagi apa yang mereka sebut sebagai Revolusi Sahel. Keluar dari organisasi kaki tangan kekuatan imperial dan mendepak kekuatan imperialis dari tanah Sahel melalui berbagai program, di antaranya kemandirian pangan, persatuan tentara Sahel untuk melawan terorisme, dan pendidikan politik bagi generasi muda. Para pemimpin Aliansi Sahel ini adalah generasi baru yang mendapatkan posisinya melalui kudeta popular (popular coup), yang didukung massa akar rumput yang telah lama hidup di dalam eksploitasi dan mengupayakan perubahan sosial politik. Terlalu prematur untuk menilai keberhasilan gerakan ini, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia menumbuhkan harapan bagi lanskap politik Selatan Global untuk memunculkan kekuatan baru, terutama di tengah genosida terhadap bangsa Palestina oleh kekuatan kolonial internasional.

Untuk itu, bingkai kuratorial kami untuk membaca Sahel adalah cukup jelas, melalui beberapa kata kunci yang menggambarkan masyarakat Sahel itu sendiri : resistensi dan agensi. Dua hal yang juga tampak pada sejarah sinema Afrika sejak kelahirannya pada 1960-an. Dimotori oleh para pembuat film yang merupakan para intelektual publik yang sadar akan potensi medium film bagi proses dekolonisasi, sinema Afrika melakukan refleksi kritis pada kolonialisme dan warisannya yang berdampak langsung pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Merentang melalui berbagai tema, dari perjuangan melawan penjajahan, migrasi, kebobrokan pemerintahan poskolonial, politik donor internasional, hingga persoalan eksistensial individu akibat ketercerabutan dari kultur dan ruang hidupnya.

Film-film yang kami pilih untuk Madani dimulai pada periode redupnya proyek Dunia Ketiga dan masuknya gelombang bantuan ekonomi global pada akhir 80’an hingga hari ini. Periode ini dipilih untuk menunjukkan perbedaan lanskap sosial politik pada masa hidupnya proyek Dunia Ketiga dan sesudahnya, sambil menunjukkan pergulatan panjang yang dialami masyarakat Afrika dan Sahel secara khusus yang dapat kita lihat benang merahnya. Meskipun dari dekade-dekade yang berbeda, film-film ini menunjukkan paralelitas persoalan yang dialami beserta agensi kolektif untuk merespon dan resistensi yang tampak dari satu generasi ke generasi. Dari sini, kita akan melihat bagaimana sinema turut ambil bagian penting bagi pembentukan pengetahuan kritis dan proses pendidikan publik. Tak kalah penting bagi pertimbangan di dalam proses kurasi adalah keragaman pendekatan bahasa sinematik yang dilakukan oleh film-film tersebut, yang menunjukkan sebuah wacana resisten lain terhadap bahasa tunggal industri film.

Bamako (2006) yang disutradarai oleh Abderrahmane Sissako mendapat perhatian khusus dari kami untuk merespon kerangka kerja yang kami tawarkan tadi. Film ini menunjukkan ketidakberesan kebijakan neo-kolonial yang diadopsi pemerintahan poskolonial Senegal yang mengubah lanskap sosial ekonomi menjauh dari kata berdaulat. Bamako menyidang dengan lantang konspirasi brutal institusi keuangan internasional yang menjebak negara-negara Afrika ke dalam kemiskinan panjang melalui hutang yang tidak mungkin terbayarkan. Sadar akan potensi performativitas di dalam sinema, film Bamako mempersilakan warga membentuk sebuah pengadilan publik terbuka di tengah pemukiman komunitas kelas bawah dan menghakimi institusiinstitusi tersebut dengan analisis kelas mereka yang berharga.

Fokus dari kurasi ini tidak hanya terletak pada kenyataan representatif di dalam sinema, namun juga gerakan konkret yang dilakukan pembuat film untuk menciptakan sebuah kultur sinema yang mengakar pada kekayaan kebudayaan lokal dan melepaskan ketergantungan pada donor dan pasar luar. Untuk ini, kami memikirkan Nollywood, sebuah industri film yang lahir dari teknologi digital di Nigeria. Ada beberapa konteks penting yang mendorong para pembuat film di Nigeria menghidupi Nollywood, yaitu ketergantungan pada sistem funding internasional, problem distribusi, dan kontrol ketat oleh negara terhadap program TV. Di dalam kurasi ini, kami menghadirkan karya seorang tokoh penting Nollywood bernama Tunde Kelani yang melahirkan teori ‘conscience camera’ dengan salah satu film terbaiknya berjudul Saworoide (1999). Film yang menggunakan salah satu bahasa lokal ini menunjukkan dengan gamblang bahwa industri skala kecil dengan teknologi massa bernama video, dapat berperan penting bagi pendidikan politik warga.

Pada akhirnya, kita perlu melihat kondisi kontemporer Sahel hari ini. Film travelogue Borders/Frontieres (2017) yang disutradarai seorang Burkinabe bernama Appoline Traore, secara kebetulan mencakup hampir seluruh lanskap geografis wilayah Sahel. Di sana, kita dapat melihat dampak kolonialisme dan imperialisme hari ini, dari ketimpangan ekonomi wilayah-wilayah Sahel hingga persoalan perbatasan yang lahir dari Konferensi Berlin (1884). Memulai perjalanan dari Senegal dan berakhir di Lagos, Nigeria, film ini memberi tempat bagi pengalaman perempuan, sebagai kelompok paling rentan di dalam perjalanan melewati perbatasan satu ke perbatasan lainnya. Narasinya dirajut melalui kisah perempuan-perempuan lintas usia yang bertemu di perjalanan lalu bersahabat sambil mempraktikkan kepedulian kolektif dan resiliensi tinggi, sebab yang mereka hadapi adalah korupsi, patriarki, ketidakadilan sistemik, bahkan pemerkosaan.

Pilihan terbaru dari kurasi ini adalah karya terakhir dari Dani Kouyate berjudul The Dance of Scorpions (2025), yang mengadaptasi karya Macbeth dari Shakespeare. Mengambil tema penting yang menggambarkan tanah Sahel berdekade-dekade belakang, yaitu perebutan kekuasaan, film ini adalah pencapaian sinematik terkini dari sineas Afrika. Mendapatkan penghargaan tertinggi dari festival film tertua dan terbesar di Afrika, Fespaco (Panafrican Film and Television Festival of Ouagadougou), film dengan bentuk noir ini menunjukkan kemampuan sineas Afrika untuk melokalisasi sebuah karya besar. Hal menarik yang menggelitik untuk direnungi, bahwa untuk membicarakan ambisi tak berakhir atas kekuasaan, sang pembuat film perlu mengadopsi satu karya besar dari salah satu pusat imperial dunia. Meskipun tidak menunjukkan motif struktural di dalamnya, film ini seolah ingin mengatakan bahwa hasrat akan kekuasaan yang ekspansionis memang berasal dari luar Afrika.

Bagi kami, memberi tempat bagi Sahel di Festival Film Madani tahun ini sangatlah penting. Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada pihak festival. Di tengah genosida, praktik kolonialisme dan imperialisme yang vulgar, adalah sebuah keniscayaan bagi kita, manusia-manusia yang terlalu lama mengalami kegelapan di belahan Selatan, untuk mengenal dan memupuk solidaritas dalam dengan sesama penghuni selatan global. Pada akhirnya, kolektivitas dan solidaritas harus dipraktikkan, dan program pemutaran ini adalah salah satu caranya.

Semoga esok, matahari akan bersinar terang.

chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram