Akbar Rafsanjani
Misykat berarti “relung cahaya”. Tempat di mana sinar bersemayam dan menyingkap kegelapan di sekitarnya. Tema ini menjadi bingkai bagi kumpulan film dalam program Madani Kids. Cerita tentang anak-anak yang belum cukup umur untuk mengikuti lokakarya, tidak memiliki kamera, dan tidak selalu mendapat dukungan keluarga. Namun dari ruang sempit itu, mereka menemukan cara, dengan jujur, spontan, dan penuh rasa ingin tahu.
Pendidikan sejati adalah proses pembebasan, ketika subjek belajar menemukan suaranya sendiri. Film-film ini memperlihatkan bagaimana anak-anak menembus batas struktural dan sosial melalui imajinasi, menjadikan keterbatasan sebagai sumber kreativitas. Dalam setiap adegan, kita menemukan percikan misykat, cahaya yang memancar dari keberanian untuk memaknai dunia dengan bahasa sendiri.
Misykat juga berbicara tentang peradaban (civilization). Peradaban sebagai hasil pembentukan sensibilitas dan empati, bukan sekadar kemajuan material. Dengan perspektif itu, karya-karya ini memperlihatkan wajah lain dari proses beradab, bagaimana anak-anak membangun rasa dan nilai melalui permainan, kedekatan, dan pengamatan terhadap lingkungannya.
Kearifan lokal yang hadir dalam kompilasi film pendek juga menegaskan pandangan bahwa budaya adalah jaring makna yang kita pintal bersama untuk memahami dunia. Anak-anak memintal ulang jaring itu, menautkan tradisi dengan pengalaman masa kini, menghadirkan bentuk baru dari pengetahuan lokal yang hidup.
Misykat dalam Madani Kids mengingatkan kita bahwa setiap anak adalah sumber cahaya peradaban. Di tangan mereka, imajinasi menjadi tindakan etis, cara untuk menyalakan masa depan yang lebih peka, terbuka, dan berbelas kasih.

