Rimpang: Tema Madani Film Festival 2026

7–11 Oktober 2026  |  Jakarta

Epicentrum XXI  /  Metropole XXI  /  Taman Ismail Marzuki & Ruang Komunitas

Spreading | Healing | Growing

Mengapa Konsep Rimpang Menjadi Begitu Relevan Bagi Masa Depan Sinema Kita?

Melalui konsep Rimpang, kita diajak merayakan keberagaman tanpa kehilangan ikatan solidaritas kemanusiaan.

Jhon Doe ~8 menit baca
Mengapa Konsep Rimpang Menjadi Begitu Relevan Bagi Masa Depan Sinema Kita?

Di tengah kegelisahan global akan fragmentasi dan dominasi narasi tunggal, Madani International Film Festival 2026 menghadirkan gagasan kuratorial “Rimpang” (Rhizome) sebagai pijakan utama. Istilah yang dipinjam dari biologi botani dan pemikiran filosofis Gilles Deleuze serta FĂ©lix Guattari ini menawarkan lensa pembebasan: sebuah cara pandang di mana makna tidak lagi ditentukan oleh satu pusat akar tunggal yang kaku, melainkan tumbuh, menjalar, dan bertaut secara organik di berbagai titik kehidupan.

Sinema di dunia Islam dan kawasan belahan Selatan sering kali dipaksa masuk ke dalam kategori-kategori biner yang menyempitkan. Melalui konsep Rimpang, kita diajak merayakan keberagaman tanpa kehilangan ikatan solidaritas. Seperti tanaman jahe (zanjabil) yang menyebarkan kehangatan dan khasiat obat luka, film-film yang hadir di edisi ke-9 ini bekerja sebagai medium pemulihan martabat kemanusiaan yang tercederai oleh perang, ketidakadilan, dan pengabaian.

Ketika seorang sineas dari Khartoum, Jakarta, Casablanca, atau Beirut menuturkan kisahnya, cerita-cerita itu tidak berdiri terisolasi. Mereka saling menyapa, bersentuhan, dan membentuk jalinan dialog yang lebih luas. Di Taman Ismail Marzuki pada 7 hingga 11 Oktober 2026, kita tidak hanya menonton proyeksi gambar bergerak di atas layar putih, melainkan turut serta menyemai benih kesalingterhubungan yang memperkaya peradaban.

Bagikan

Warta Lainnya

Lihat semua